Minggu, 06 Maret 2016
Senin, 29 Februari 2016
Dialog Pena Dengan Penulisnya
Tidak ada yang bisa mendefinisikan kata Cinta. Tanya Profesor, dia tidak mungkin menemukannya dalam persamaan reaksi. Tanya Dokter, dia tidak bisa menyuntikannya kedalam urat nadi. Eitss jangan menyerah, cobalah bertanya pada Penulis. Meski tidak dapat di definisikan, mereka dapat menjabarkannya lewat aksara.
Si penulis mesem-mesem sendiri, matanya melayang ke kiri dan kekanan menata kata. Bukankah sudah jelas Cinta itu terdiri dari lima huruf yang masing-masing merefleksikan sebuah kata;
C : Candu
I : Ironi
N : Naas
T : Toksin
A : Absurd
Matanya melotot tidak terima. Hey, aku sedang membelamu! Tidakkah kau ingat, pada malam dimana kau menangis sesegukan. Air matamu berbicara, menyuruhku menggoreskan sejumlah kata. Bahkan kertas-pun ikut meringis menahan sakit.
Dia mencebik, otak sastranya mengambil alih. Oh tidak! Kata-kata yang ku toreh dicoret-nya hingga luput, lalu dia menggantinya;
C : Ceria
I : Inspiratif
N : Naif
T : Tulus
A : Asih
Aku muak! Kresek, mana kresek? Rasanya sesuatu akan keluar dari kerongkonganku. Dia meleletkan lidah, seolah aku tak melihatnya. Lihatlah, dia tersenyum kegirangan ditemani tawa Kertas. Merasa menang.
Ah sudahlah, Aku menyerah.
"Hey jangan marah," Si Penulis berusaha membujukku tapi aku terlalu cemburu untuk menatap mereka.
"Apa kamu tahu kenapa aku begitu mendamba Cinta?" Dia memberikan tatapan mata ambigu, seolah tahu dan tidak tahu menggantung di pelupuknya. Aku menggeleng.
"Karena dengan Cinta, aku bisa menggerakan kamu. Memberikan kamu setiap waktu agar dapat menari bersama tanganku. Menggoreskan kata-kata indah hingga menyakitkan, tawa sampai deraian air mata. Karena itulah Cinta."
Aku terdiam sedangkan Kertas sudah berlinang air mata keharuan.
"Beberapa hal terpenting sesudah Ibu adalah kamu (pena) dan kertas. Cinta hanyalah kata perantara yang menunjukan betapa aku mencintai kalian. Karena kalian lah yang menjadikan aku seorang Penulis."
Untuk Pena dan Kertas yang selalu setia menemaniku menulis. Terimakasih sudah mempercayakan kesetiaan kalian untuk kesekian kalinya. Lagi. Aku mencintai kalian. Selalu.
Back In Blog
Yooooo, udah lama hilang dari per-Blog-an soalnya lupa password. Sekarang kembali dengan blog baru yang bakal jadi sarana tulisanku supaya tak lapuk termakan waktu.
Tangan udah lama pengen mijit-mijit tuts, ya sekarang tuts handphone aja. Laptopnya lagi di pinjem 😄.
Karena karya-karya ini original buatan saya jadi no plagiat OK!! Hargailah pengarang yang sudah susah payah luangin waktu cuma buat ngerangkai kata.
Still. Saya masih belajar jadi penulis jadi mohon koment untuk motivasi saya terus menulis.
Enjoy the words.